Rakor Penanganan PMK

Rakor Penanganan PMK

Selong, Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) terus menyebar di Indonesia. Dalam tiga hari terakhir penyebarannya sudah mencakup 19 provinsi (bertambah satu provinsi) dan 199 kabupaten/ kota (bertambah enam kabupaten/ kota). Dari seluruh wilayah tersebut tercatat 183.280 kasus dengan 2.379 pemotongan bersyarat dan kematian 915 kasus.

Hal tersebut terungkap pada rapat koordinasi (Rakor) pembahasan penanganan penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak yang berlangsung Ahad (19/6) secara virtual. Rakor yang dipimpin Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Erlangga Hartarto tersebut diikuti seluruh Kepala Daerah yang wilayahnya terdampak PMK.

Menko Erlangga pada kesempatan tersebut menekannya pentingnya pelaksanaan vaksinasi bagi hewan ternak, utamanya yang masih sehat. Tercatat ada 48.779.326 populasi ternak mencakup sapi, kerbau, domba hingga kambing yang terancam, sehingga dibutuhkan langkah cepat untuk penanggulangannya. Dibutuhkan sedikitnya 28 juta dosis vaksin sebagai prioritas.

Pemerintah pusat, terang Erlangga, telah menyiapkan impor 3 juta dosis vaksin dan mengupayakan penyediaan vaksin dalam negeri dari Pusat veteriner Farma (PUSVETMA) dan produsen vaksin dalam negeri.

Menko juga menekankan pentingnya keberadaan satgas hingga tingkat provinsi dan kabupaten/ kota termasuk untuk mengawasi lalu lintas hewan ternak. Ditegaskannya tidak boleh ada perpindahan hewan ternak dari daerah wabah ke kabupaten/ kota bebas, terduga atau tertular, sesuai PP 47/2014 (pasal 56, ayat 1). Sementara dari wilayah bebas, daerah terduga, maupun daerah tertular ditentukan bebas bersyarat.

Menko Erlangga memerintahkan penutupan jalur perdagangan serta pasar ternak, pemusnahan hewan dengan kondisi parah lengkap dengan ganti rugi, rencana aksi serta penetapan status wabah oleh gubernur. Ditambahkannya pula dana tidak terduga dapat dimanfaatkan untuk penanganan dan penanggulangan wabah PMK.

Sementara itu Menteri Pertanian Sahrul Yasin Limpo pada Rakor tersebut memastikan seluruh daerah wabah yang meliputi 6.112 desa dan 1.754 kecamatan menutup jalur perdagangan ternak atu tidak ada hewan hidup yang keluar dari wilayah tersebut, kecuali dalam bentuk daging atau sudah dipotong.

Lalu lintas ternak telah pula dikoordinasikan dengan Pemda, TNI-Polri serta instansi seperti Dinas perhubungan, Syahbandar, dan pihak terkait lainnya. Sementara pasar hewan di seluruh wilayah wabah juga semuanya telah ditutup.

Di Nusa Tenggara Barat terdapat 5 kabupaten/ kota yang merupakan wilayah terdampak PMK, termasuk Lombok Timur. Bupati Lombok Timur H.M. Sukiman Azmy pada Rakor bersama Camat dan Kepala Desa beberapa waktu lalu sempat menyinggung penyebaran PMK tersebut.

Diharapkan vaksinasi dapat segera diberikan untuk mencegah semakin meluasnya wabah dan menekan kerugian masyarakat, terlebih menjelang hari raya kurban.

Berdasarkan data gugus tugas penanganan PMK Provinsi NTB (18 Juni) dari populasi 269.285 di Lombok Timur, 12.379 terkena PMK, 4.607 masih sakit dan 7.680 dinyatakan sembuh. Sementara itu  ada 75 potong bersyarat dan 17 dinyatakan mati.